Saat Umur Berapakah Anda pertama kali khatam membaca Al Qur'an?

Profil Pembina

videografi Ustadz Yudi Imana


Breaking News

Tahsin sebagai tahapan dakwah 02



Sambungan.... Alhamdulillah, dengan tekad dan nekad, yang Kami pahami waktu itu barulah Al jauf, lantas dengan semangat khairukum man ta’alamal qur’an wa’allamah, “sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari alquran dan mengajarkannya”. Tentu saja, kami tak akan pernah lupa, kepada “pelanggan” pertama kami, pak Pribadi Kadivre Telkom Yogya, yang mendisposisi kepada BRI—Bina Ruhani Islam TELKOM Jogja Bapak Qodri, untuk program funtahsin di masjid Telkom. Kombes KH. Imam Subarno—Kepala Binrohtal, yang memberi kami kesempatan untuk berfuntahsin di hadapan 400-an Personel POLDA DIY setiap hari Rabu pagi menjelang Mujahadah pasca apel pagi di Masjid POLDA DIY. Ustadz Dudu Ridwanulhaq, Bina Ruhani Islam RSIY PDHI, yang memberi kami kesempatan ber-funtahsin dihadapan perawat & karyawan RSIY PDHI. Pimpinan dan Jama’ah masjid al – Iman yang setia mendengar dan menanti kami mengajar meski belum jelas format pengajarannya. Kang Kurun, pimred Republika Jogja yang telah memberi kesempatan “manggung” di pra pengajian muhasabah tahun baru. 
Nah, tentang nama funtahsin, kami usulkan untuk menjadi nama panggung dari metode ‘asyarah. Karena “lidah jawa” kami susah mengucap huruf arab—dulu belum takut kalau salah makhraj & shifatnya. Alhamdulillah perubahan istilah ini direstui oleh ustadz Yudi Imana—beliau tetap keukeuh dengan Funtahsin metode ‘asyarah, di Jogja kami hanya kenalkan sebagai funtahsin. Funtahsin juga dipopulerkan Ust. Yudi Imana menjadi nama panggung di acara ngaji PJTV (Padjadjaran Televisi) Bandung.
Selama hampir setahun, kami hanya mengajar Al Jauf, setelah sekira 6 bulan, kadang-kadang kami mengajar Al Khaisyum. Saking semangatnya, dalam setahun, atas berkat rahmat dan pertolongan Allah, kami berhasil mengenalkan funtahsin ke berbagai lembaga maupun majelis. Bahkan sejak bulan pertama berdiri, kami dengan sangat heroik, meng-hire ustadz-ustadzah melalui media massa dan jejaring. Alhasil, terekrutlah para “assabiqunal awwalun” dari pengumuman media massa & Forum Halaqah Quran serta Ponpes Takwinul Mubalighin. Mereka adalah Hj. Esti Rahayu, Ust. Endri Sulistyo, Usth Asniyah Nailasari, Usth. Aufa, Usth. Mayansari, Usth. Ayu Sri Wahyuni, Usth. Rismawati, Ust. Miftahul Huda, Ust. Sukiyanto.
Kepada mereka, kami, khususnya Ustadz Akhid bertugas men-transfer metode ‘asyarah. Sedang saya lebih banyak memikirkan bagaimana supaya bisa segera mengajar. Menyusun narasi support sistemnya, mulai dari kantor, keuangan, bahkan menjadi penjamin atas beberapa pinjaman dana, untuk modal awal pendirian organisasi baru ini. Dengan segala keterbatasan, karena memang terbatas ilmu kami tentang metode ini, dan terbatas pula resource yang kami bisa berdayakan. Berjalanlah baitulquran dengan sempoyongan. Ibarat Bayi, Baitulquran sering menangis karena kurang makanan dan susu, makanannya adalah santri yang penyantun, susu adalah lembaga/donatur yang baik hati. Sedih sekali ketika harus menyampaikan besok materinya harus maju, padahal belum dapat transferan ilmu lagi dari ustadz Yudi. Perih juga tatkala awal bulan, honor mesti dibayarkan kepada assatidz, tetapi tak bersisa karena harus menutup hutang acara kemaren lalu.
bersambung lagi...
Designed By VungTauZ.Com