Saat Umur Berapakah Anda pertama kali khatam membaca Al Qur'an?

Profil Pembina

videografi Ustadz Yudi Imana


Breaking News

TAHFIZH Sebagai Tahapan Dakwah



Setelah menikmati pembelajaran awal tahsin yang asyik, dan berhasil mencapai bacaan yang tartiil. Sahabat Quran dituntut untuk senantiasa mengulangnya, bahkan menghafalnya. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai tahfizh. Tahfizh sendiri bermakna menjaga, memelihara. Dan menghafal adalah salahsatu bentuk penjagaan yang paling mudah dikenali. Karena dengan menghafal, maka kita dituntut untuk sering mengulang-ulang bacaan yang sudah tartiil tersebut. Para huffazh, penghafal alquran sejatinya adalah wasilah bagi terpeliharanya kemurnian Alquran dari campurtangan makhluk, sebagai bagian dari garansi Allah swt. Ia berfirman: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan alquran, maka kami pulalah yang akan menjaganya”
Tahfizh memiliki nilai tersendiri di hadapan Allah swt. Bagi seorang hafizh, Ia diberi kehormatan untuk memuliakan kedua orangtuanya dengan memakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang dari matahari dan menjadi asbab kedua orangtuanya masuk surga. Bayangkan betapa bahagianya orang tua kita, ketika di akhirat kelak, kita mulyakan sebagai bhakti, dengan memohonkan anugerah mahkota para hafizh qur’an. Bagi setiap muslim, hafalan alquran yang tartil menjadi penimbang derajat ketinggian kedudukannya disyurga sesuai dengan banyaknya ayat yang dihafal. Bahkan para penghafal quran berhak bergelar ahlullah—keluarganya gusthi Allah swt. Subhanallaah...
Baitul quran Jogja, sebagaimana sebelumnya mengajak sahabat men-tahsinkan akhlak, maka dalam tahfizh pun demikian. Kami mengajak-menghimbau agar akhlak yang telah pula secara berkesinambungan di tahsin—dibaguskan—diperbaiki, kita pelihara, kita jaga, kita tegakkan. Sebagaimana tahfizh dalam bacaan kita yang dipandu mengulang-ngulangnya, maka dalam rangka pemeliharaan penjagaan akhlak mulia, kita pun perlu mengulang-ulang amal shalih, sehingga terintegrasi dalam kepribadian kita. Sehingga menjadi akhlak kita. Imam Al Ghazali, mendefinisikan akhlak sebagai respon spontan atas sesuatu. Maka pribadi yang telah memasuki masa tahfizh, menjadikan alquran sebagai sinyal pemantik respon spontan atas apa yang terjadi di lingkungan sahabat quran. Al Quran menjadi asas cara pandang/ worldview atas segala perubahan lingkungan. Dimasa tahfizh, sekali lagi kami tegaskan, dibutuhkan ketekunan, kegigihan, kesabaran serta tekad yang kuat, disamping kepasrahan yang total dalam bertawakal kepada Allah swt, agar kita istiqomah sehingga berajal khusnul khotimah.
Secara teknis, Tahfizh atau menghafal perlu pengondisian yang lebih teratur dan rapi, serta menuntut ketekunan, keseriusan dan kesabaran. Sebagai tahapan dakwah, ia menuntut fasilitas yang lebih kokoh dan menetap, yang dalam usulan baitul quran jogja, ia dapat berupa rumah quran (baitul Quran) dalam arti fisik, atau kumpulan rumah-rumah quran yang secara komunal bergabung menjadi kampung quran. Hadirnya rumah quran (baitul quran) dalam wujud fisik ini, sangat dituntut untuk memfasilitasi terbangunnya suasana –bi’ah—agar keberlangsungan aktivitas pemeliharaan, penjagaan, atau sebagai kompleks kegiatan penghafalan alquran tersebut dapat terlaksana. Sesuai sebutannya sebagai rumah quran, maka kegiatan rumah quran disusun sedemikian rupa sehingga dari sejak bangun, tidur hingga bangun lagi dapat berasaskan quran.
Pada tahap-tahap awal pendirian bisa saja rumah-rumah quran, belum menerima santri mukim, tetapi kehadiran rumah quran yang ideal adalah ia menjadi “jujugan” para santri untuk menimba ilmu quran maupun menjalani “laku” sebagai pemelihara quran secara mukim maupun kalong (pulang-pergi). Bagi kami, rumah quran yang sejati bukanlah megah bangunannya, tetapi giatnya aktifitas belajar dan mengajarkan alquran di dalamnya, pun bila santrinya masih putra-putri dan kerabat ustadz-ustadzah semata.
Idealnya rumah-rumah quran didirikan oleh para ustadz/ustadzah segera setelah mendapat sanad tahsin sebagai kemampuan dasar mengajar alquran. Selebihnya persilahkan memulai pembidangan seusai peminatan masing-masing ustadz-ustadzah guna lebih mendalami ilmu-ilmu alquran. Boleh jadi di rumah quran A, kelak identik dengan tahsin plus tahfizh, RQ B tahsin plus terjemah, RQ C Tahsin plus Kitab Kuning, RQ D Tahsin plus tadabbur, RQ E tahsin plus tafsir, dll. Sehingga masing-masing santri pun bisa bergiliran “mondok” dari dan ke beberapa Rumah Quran untuk melengkapi ilmu kequr’anannya, sebelum membangun rumah qurannya sendiri kelak.
Idealnya lagi pendidikan di masing-masing rumah quran diselenggarakan gratis dengan biaya pendidikan ditanggung oleh ustadz-ustadzah yang mengampu dari hasil usahanya yang halal berkah melimpah. Tentu saja, pendirian setiap unit rumah quran dan kebersinambungan kegiatannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi bila menyadari dan menyesapi ruh tahapan dakwah alquran yang kami paparkan ini, bahwa bukan saja bacaan quran yang kita tahsin dan tahfizh-kan, tetapi juga Akhlak sebagai ejawantah alquran yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari. Pemeliharaan akhlak yang terus berproses menjadi lebih baik, dengan pengulangan-pengulangan kebaikan yang intens, sewajarnya akan menjadikan diri ustadz/ustadzah quran menjadi pribadi-pribadi kepercayaan masyarakat yang senantiasa ikhlas mengharap ridha Allah semata. Dengan tingginya kepercayaan masyarakat tersebut, disertai pertolongan Allah swt, saya yakin, masalah pembiayaan rumah quran tersebut dapat teratasi, bisa saja dengan wasilah keterlibatan masyarakat yang “nyengkuyung” keberadaan rumah quran tersebut.
Beberapa skenario pembiayaan rumah quran dapat ditempuh para ustadz-ustadzah rumah qur’an. Pertama, dibiayai sendiri dari hasil usaha ustadz-ustadzah yang halal berkah melimpah. Kedua, dibiayai oleh keluarga ustadz-ustadzah atau perorangan yang berkecukupan harta, sehingga ustadz-ustadzah yang berkonsentrasi penuh pada pengajaran alquran. Ketiga, rumah quran menggandeng lembaga donor, lazis, dan atau baitul maal untuk membiayai kegiatannya. Keempat, rumah quran dibiayai jama’ah yang dibinanya secara sukarela. Kelima, dan ini sebaiknya dihindari, rumah quran mengenakan SPP-sumbangan penyelenggaraan pendidikan kepada santri-santrinya.
Sebagai wujud tanggungjawab di hadapan Allah khususnya, dan dihadapan khalayak pada umumnya, maka pada periode ini, Baitul Quran secara bertahap menyiapkan sekolah quru quran, yang berguna untuk menyiapkan kader-kader sahabat quran, untuk mendirikan, menginisiasi, mengawal, mengelola, bahkan memelihara, hingga pada akhirnya mendaur-ulang manfaatnya secara berkesinambungan kepada ummat sebagai bakti kepada Allah swt. Tidak muluk-muluk, kami bermimpi dan selalu terpanjat dalam do’a, kelak dapat hadir satu dusun satu rumah quran. Bahkan terinspirasi—maaf—Billgate, kami beranikan bermimpi satu rumah satu hafizh quran. Semoga!
5 titik layanan yang dapat di akses sahabat quran.

  1.  Rumah Quran Al Amin, bersatu dengan Kantor Baitul Quran Jogja, Ngemplak Nganti-Jombor, Sendangadi, Mlati Sleman. (depan UTY, belakang Centris Taxi). Cp. 7022224
  2.   Markaz Baitul Quran Jogja, Bedingin Sumberadi Mlati Sleman (Kang Wawan). Telp. 7151693 / 081572101134/ 081229821778
  3. Rumah Quran AL Ikhlas, Munengan, Sidoluhur, Godean, Sleman. CP. 0856 2978 739 / 0856 298 4417
  4. Kampung Quran Al Iman Gatak. Sekretariat. Rmh Ust. Galih. Kav. 4 Perum PKPU Gatak, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Cp. 0878 3926 5560/ 0813 937 000 47    
  5. Rumah Quran Raudhatul Ilmi, Ngrajek Ngemplak, Tirtoadi, Mlati, Sleman cp. Ust. Endri 081585818901

6.       Segera menyusul beberapa rumah quran yang sedang persiapan untuk dilaunching, insyaAllah
Baitul Qur'an Jogja
Ngemplak Nganti rt 04/08 Sendangadi Mlati Sleman DIY
0274-7022224, 081572101134
baitulquran_jogja@yahoo.co.id
www.funtahsin.com

Donasi:
Bank Syari'ah Mandiri No 1670018440 an Wawan Priyo Harmono
Designed By VungTauZ.Com